Baca juga

Jangan terlalu lama terjebak euforia wirausaha

euforia-wirausaha

Pertama kali yang di rasakan setelah resign apalagi kalau bukan perasaan senang, perasaan bahagia karena merasa bebas. Belum lagi perasaan senang karena di sanjung kelompok bisnis mainstream yang rajin mengajak anggotanya untuk resign. Dari yang sebelumnya terikat jam kerja, terbiasa menerima gaji bulanan mendadak bebas bisa bangun siang, masih bisa nonton TV siang hari dan bisa libur kapan saja.. Itu yang di sebut euforia.. Perasaan bahagia, perasaan bebas yang akhirnya terlepaskan. Hal yang demikian wajar

Tapi… euforia wirausaha setelah resign harus ingat waktu terus berjalan dan ada kebutuhan dapur yang harus anda penuhi. Jangan lupa, tidak ada lagi gaji bulanan yang bisa di andalkan setelah resign. Kalau yang sebelum resign sudah memiliki tabungan tentu agak sedikit lega, tapi kalau yang resign modal nekat waktu yang di miliki sangat terbatas.

Di awal awal resign boleh lah jalan-jalan di hari kerja, nongkrong di tempat ngopi sambil melihat orang kerja lalu lalang saat jam istirahat. Tapi biasanya seiring berjalanya waktu mulai muncul kegalauan, apalagi kalau bisnis yang di rintis ternyata tidak mampu memberi hasil yang cukup untuk operasional. Apalagi untuk biaya hidup sehari-hari

Perlu di ingat, hitung hitungan bisnis jangankan yang ada di kepala, yang ada di atas kertas sekalipun bisa jadi sangat berbeda dengan yang ada di lapangan di dunia nyata yang kita jalani sendiri. Perjalanan bisnis tidak selalu mulus, tidak seperti ketika berkarir dari gaji 3 juta bisa naik terus sampai 10 juta. Di wirausaha tidak, hari ini anda dapat uang 10 juta, bisa jadi bulan depan minus 20 juta dan itu sangat mungkin !!

Kalau sewaktu jadi karyawan ada istilah tanggal 3 koma, karena tanggal tiga gaji sudah habis dan waktunya kas bon ke kantor untuk biaya hidup itu sudah terasa berat. Nanti di wirausaha, ada masanya bisnis yang anda bangun ada di titik terendah, bahkan tidak sedikit yang minus ratusan atau bahkan milyaran demi bisnisnya yang pemicunya bisa jadi entah karena bencana, salah strategi atau bahkan di tipu oleh orang kepercayaan. Siap?

Saya bukan mau menakut-nakuti, tapi inilah dunia wirausaha. Euforia boleh, menikmati rasa bangga ketika punya karyawan juga boleh. Tapi jangan terlalu lama, harus cepat belajar. Di awal awal bisa jualan akan sangat membantu, tapi akan banyak ilmu lain yang harus di pelajari kedepannya. Perluas silaturahmi, buka pikiranĀ lebih luas

 

One comment

  1. Kalau saya malah kebalikannya, bukannya euforia tapi harus menyembunyikan kisah resign saya selama 2 tahun. Maklum waktu itu istri baru melahirkan jadi kuatir tidak kuat menerima kenyataan kalau pada akhirnya saya memutuskan resign. šŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*